Peluang Besar Industri Halal Indonesia di Kancah Global

ilustrasi (gambar: nursyamcentre.com)

MTN, Jakarta – Industri halal Indonesia memiliki peluang besar di kancah persaingan global. Seperti apa?

Dilansir dari Maklumat, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim, Prof Nazaruddin Malik, menjelaskan bahwa potensi besar industri halal Indonesia di kancah global harus terus dimaksimalkan.

Menurut Nazaruddin Malik, yang perlu diperhatikan bukanlah produk yang sudah halal, tetapi juga produk yang tidak halal. Sebab, sebagian besar produk seharusnya memang halal, dan fokus seharusnya adalah tertuju pada hal-hal yang berpotensi menyalahi syariat. Dengan cara ini, perhatian masyarakat dan pengembang industri halal bisa lebih tepat sasaran.

“Yang sebenarnya harus kita perhatikan itu yang tidak halal, bukan yang halal. Karena seharusnya sebagian besar kan halal,” ujar Nazaruddin yang di PWM Jatim bertugas membidangi pemberdayaan masyarakat, UMKM, dan industri halal.

Nazaruddin menjelaskan bahwa konsep halal dan thayyib adalah syarat penting bagi aktivitas konsumsi umat Islam. Hal itu ternyata juga memberi manfaat universal bagi masyarakat luas. Halal itu juga harus terlihat dalam semua aspek, mulai dari produksi, konsumsi, hingga distribusi.

Secara global, industri halal menunjukkan peluang dan tantangan yang besar. Banyak negara non-Muslim mendominasi ekspor produk halal. Nazaruddin mencontohkan, misalnya Tiongkok menjadi eksportir baju muslim terbesar dunia karena kapasitas produksi masif dan harga kompetitif.

Contoh lain, Australia mengekspor ratusan ribu ton daging hewan seperti sapi ke lebih dari 110 negara, termasuk yang memiliki populasi Muslim signifikan. Brasil bahkan menjadi pengimpor daging halal terbesar di dunia saat ini.

“Banyak yang belum tahu bahwa industri ekspor daging halal didominasi oleh negara-negara mayoritas non-Muslim. Negara-negara Muslim hendaknya mampu menjadi produsen dengan menawarkan produk halal yang kian diminati,” katanya.

Selain pangan, sektor keuangan syariah juga menjadi bagian penting dari industri halal. Malaysia berhasil menjadi pusat keuangan syariah dunia berkat perencanaan strategis dan kolaborasi antara sektor publik dan swasta. Uni Emirat Arab juga aktif mengembangkan dirinya sebagai pusat global keuangan syariah.

Tren halal juga berkembang di bidang pariwisata. Korea Selatan misalnya, yang melihat pariwisata halal sebagai sektor yang strategis. Negara-negara lainnya seperti Rusia, Amerika Serikat, dan Tiongkok juga aktif mengembangkan pariwisata halal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

“Thailand itu juga menargetkan diri sebagai pusat dapur halal Asia Tenggara melalui visi Halal Kitchen. Jepang juga sedang aktif membangun industri kuliner halal untuk menyambut wisatawan dan pelajar Muslim internasional,” jelasnya.

Nazaruddin menekankan pentingnya meningkatkan perspektif dan pemahaman masyarakat Indonesia terhadap konsep halal. Terlebih hari ini, pasar global halal sangat luas dan kini juga diminati masyarakat non-muslim.

“Jadi artinya di dunia ini sebenarnya kesadaran akan dimensi halal itu menjadi penting. Maka di Indonesia itu tidak boleh ketinggalan, harus meningkatkan perspektif pemahaman tentang halal dulu. Halal itu bukan hanya produk makanan, tetapi juga produk pakaian, aparel, industri keuangan, sistem perdagangan halal, wisata halal, dapur halal, dan masih banyak lagi,” jelasnya.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *